Friday, December 14, 2007
PENDIDIKAN HUMANIS
DS
Friday, November 30, 2007
PENGAWAS SEKOLAH
Saat ini gema aktivitas Guru di sekolah masih berkisar pada pengisisan portofolio untuk memenuhi kriteria perolehan "sertifikasi guru". Bagi mereka yang isian portofolio-nya memenuhi kaidah dari Direktorat Jenderal Pembinaan Mutu Tenaga Kependidikan Depdiknas, akan memperoleh "point" guna pencapaian jenjang "Guru Teregistrasi" atau "Guru Profesional" dengan reward penambahan kesejahteraan berdasar sekian kali skala gaji yang pernah diterimanya.
Apabila banyak keluhan yang muncul dari kalangan guru di sekolah, terlebih karena rendahnya daya serap informasi melalui proses sosialisasi yang tereduksi oleh strata birokrasi.
Kemungkinan lain memang ada, semisal kebijakan lokal di tingkat kabupaten/kota (Dinas Pendidikan setempat) yang dirasakan belum memenuhi azas keterbukaan serta keadilan.
Seorang guru SMP Negeri di sebelah timur dari Jakarta Timur, sempat mempertanyakan mengapa "guru itu" yang memperoleh kesempatan pertama untuk mengisi portofolio (kalau memang ditunjuk oleh...siapa? jawabannya nggak pernah jelas, apalagi dasar keputusannya). Kenapa bukan "guru yang ini" karena dari sudut pandang teman-teman di sekolah jelas lebih layak. Kalimat tersebut mencerminkan adanya reduksi informasi tentang kebijakan lokal yang sebenarnya ditempuh justru dengan tujuan serta semangat "MEMPERBAIKI KONDISI GURU".
Kekurangan dalam implementasi perdana dari suatu sistem/program memang selalu saja ada kekurangannya, sebagai contoh kasus; Seorang guru yang akan melengkapi isian format portofolio, harus mencari, memohon dan meminta belas kasihan kepada pengawas sekolahnya untuk memperoleh rekomendasi (guru profesional) pada format bersangkutan.
Sementara ada pertanyaan yang muncul dan mengganjal di hati kita "apakah pengawas sekolahnya(supervisor sekolahnya) sudah memenuhi kaidah profesional, manakala memperoleh otoritas memberikan rekomedasi portofolio untuk melahirkan seorang guru profesional??".
Yang lebih celaka adalah pengawas sekolah (supervisor sekolah) yang BELUM PERNAH MENJADI GURU, namun merekomendasi kinerja guru, hanya karena ingin menyelamatkan kolega (Eks pejabat struktural) agar bisa memperpanjang usia pensiun ke 60 tahun. Pelecehan terhadap jabatan pengawas/supervisor seperti inilah yang semestinya menjadi SKALA PRIORITAS UNTUK SEGERA DIAKHIRI!
Tulisan ini BUKAN dimasudkan untuk memojokkan jabatan Pengawas Sekolah (Supervisor Sekolah) namun malah sebaliknya mengingatkan kepada kita semua, BAHWA JABATAN PENGAWAS/SUPERVISOR SEKOLAH BUKANLAH PELENGKAP PENDERITA dari suatu sistem persekolahan di Republik ini (yang katanya sudah direformasi, sudah direformulasi dan sudah direstrukturisasi), atau MALAH BELUM ??. Wallahualam bisawab,....namun tetap harus ada kejelasan, mengingat hal ini menyangkut banyak orang dalam suatu megasistem MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA DI SEKTOR PENDIDIKAN.
bRAVO pENGAWAS sEKOLAH!.
Mengakhiri Nopember 2007Friday, August 24, 2007
PROMISING UNIVERSITIES
Ahmad Dahlan University : www.uad.ac.id
Airlangga University : www.unair.ac.id
Atma Jaya Catholic University Jakarta : www.atmajaya.ac.id
Atma Jaya University Yogyakarta : www.uajy.ac.id
Bandung Polytechnic for Manufacturing : www.polman-bandung.ac.id
Bandung State Polytechnic : www.polban.ac.id
Bina Nusantara University : www.binus.ac.id
Bogor Agricultural University : www.ipb.ac.id
Bunda Mulia University : www.bundamulia.ac.id
Diponegoro University : www.undip.ac.id
Gadjah Mada University : www.ugm.ac.id
Indonesian Institute of the Arts, Jogja : www.isi.ac.id
Indonesian Institute of the Arts , Denpasar : www.isi-dps.ac.id
Indonesian Institute of the Arts , Surakarta : www.stsi-ska.ac.id
Institut Teknologi Bandung : www.itb.ac.id
Institute Teknologi Sepuluh November : www.its.ac.id
Jakarta Institute of the Arts, The : www.ikj.ac.id
Jember University : www.unej.ac.id
Jenderal Soedirman University : www.unsoed.ac.id
Maranatha Christian University : www.maranatha.edu
Merdeka University – Malang : www.unmer.ac.id
Muhammadiyah University of Malang : www.umm.ac.id
Muhammadiyah University of Surakarta : www.ums.ac.id
Padang State Polytechnic : www.polinpdg.ac.id
Padang State University : www.unp.ac.id
Padjadjaran University : www.unpad.ac.id
Palangkaraya University : www.upr.ac.id
Pancasila University : www.univpancasila.ac.id
Parahyangan Catholic University : www.unpar.ac.id
Pasundan University : www.unpar.ac.id
Pelita Harapan University : www.uph.ac.id
Sanata Dharma University : www.usd.ac.id
Satya Wacana Christian University : www.uksw.edu
Sebelas Maret University : www.uns.ac.id
Soegijopranata Catholic University : www.unika.ac.id
Sriwijaya University : www.unsri.ac.id
State University of Malang : www.malang.ac.id
State University of Medan : www.unimed.ac.id
Supra School of Bussiness and Computer : www.supra.ac.id
Tadulako University : www.untad.ac.id
Telkom School of Engineering : www.stttelkom.ac.id
Udayana University : www.unud.ac.id
University of 17 Agustus 1945, The : www.untag-sb.ac.id
University of Bengkulu : www.unib.ac.id
University of Indonesia : www.ui.ac.id
University of Mataram : www.unram.ac.id
University of Surabaya : www.ubaya.ac.id
Widyagama University of Malang : www.widyagama.ac.id
Windya Mandala Catholic University Surabaya : www.wima.ac.id
Yogyakarta State University : www.uny.ac.id
sumber,dikti2007
4DARI50perguruanTinggiTersebutDiatasMasuk250sampai500PTterbaikd
उniayaituUIugmITBdanUNDIPsumberTIMESHIGHEREDUCATIONoct2006
Saturday, April 28, 2007
PEMBELAJARAN
Sesuai dengan kesepakatan bangsa untuk merubah Paradigma Baru Pendidikan, maka orientasi Pembelajaran tidak lagi Teacher Centered Learning, melainkan Student Centered Laearning. Dengan demikian para Guru di dalam proses tatap muka diharapkan mampu menjadi fasilitator yang handal karena proses pembelajarannya yang menyenangkan, mencerdaskan serta mampu memenuhi kebutuhan peserta didik.
Pembelajaran ke depan menuntut aktivitas peserta didik untuk MELAKUKAN SESUATU sesuai dengan kompetensi yang akan diraih sebagai hasil belajarnya. Kemampuan yang diperoleh melalui proses pembelajaran melalui PENGALAMAN BELAJAR, merupakan bentukkan dari potensi yang sudah ada dalam diri peserta didik, yang terakumulasi menjadi suatu kompetensi.
Tak seorangpun diantara kita memiliki hak untuk MERUBAH keinginan peserta didik untuk merekonstruksi seluruh potensi bawaannya, menjadi suatu desain kompetensi baru yang dipaksakan, apalagi secara terstruktur dan sistematis.
Belajar memang menhantarkan peserta didik untuk mampu memahami seluruh hasil belajarnya (learning to know) agar dirinya dapat melakukan sesuatu dari hasil pemahamannya tersebut (learning to do), sehingga mampu mengekspresikan jati dirinya/menjadi diri sendiri (learning to be) dan pada akhirnya punya kemampuan untuk mengimplementasikan hasil belajarnya ke dalam lingkungan kehidupan yang damai (learning to live together) melalui sikap, perilaku, keimanan serta ketaqwaanya kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Esensi Pembelajaran yang demokratis, menghormati hak-hak dasar kemanusiaan (HAM) serta memenuhi rasa keadilan, merupakan amanat Reformasi Pendidikan, yang saat ini potretnya justru semakin buram, dan mungkin akan dilupakan!!.
Jakarta, 28 April 2007
darsana setiawan